Jumat, 11 Juli 2014

Doa Berpuasa dan Berbuka Puasa





NIAT PUASA :

نـَوَيْتُ صَوْمَ غـَدٍ عَـنْ ا َدَاءِ فـَرْضِ شـَهْرِ رَمـَضَانَ هـَذِهِ السَّـنـَةِ لِلـّهِ تـَعَالى

"nawaitu saumagadin an'adai fardi syahri ramadhana hadzihisanati lillahita'ala"

Artinya :
"saya niat berpuasa wajib, sehari penuh, besok dibulan ramadhan dalam tahun ini atas perintah allah swt".

NIAT BUKA PUASA :

اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْت بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

"Allahummalakasumtu wabika aamantu wa'alarizqika afthortu birohmatikaya ar-hamarrahimin"
Artinya:
“ Ya  Allah karena-Mu aku berpuasa, dan kepada-Mu akau beriman dan diatas Rezeki-Mu aku berbuka. Dengan Rahmatmu yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Kamis, 10 Juli 2014

Kisah Pendamping Nabi Musa Di Surga




Nabi Musa penasaran pada seorang yang disebutkan Allah akan menjadi pendampingnya disurga kelak. Setelah bertemu, ia ternyata seorang yang taat dan sangat berbakti kepada orang tuanya, meskipun orang tuanya sudah berubah menjadi babi karena dosanya kepada Allah. Karena anak yang berbakti ini pula, Allah akhirnya menempatkan kedua orang tuanya juga di surga.
Pada suatu hari, Nabi Musa bertanya kepada Yang Maha Kuasa, “ Ya Allah, siapakah orang di surga nanti yang akan menemani saya?” mendapat pertanyaan dari nabi Musa, Allahpun menyebutkan nama seorang lelaki, sebut saja namanya Usman. Allah menyebutkan ia berada di sebuah desa yang agak jauh dari tempatmu ini Ciri-cirinya, yang sangat taat kepada kedua orang tuanya. Setelah mendapat jawaban, Nabi Musapun segera menuju ke tempat yabg disebutkan Allah.
Dengan pertolongan beberapa orang penduduk setempat, Nabi Musa akhirnya bisa bertemu dengan Usman. Nabi Musa pun mengetuk pintu rumah Usman dan memberi salam. Setelah menjawab salam Nabi Musa, Usman membukakan pintu dan mempersilahkan masuk tamu yang baru datang.
Setelah masuk ke rumah usman, Nabi Musa dipersilahkan  duduk. Setelah duduk, Usman sebagai tuan rumah tidak memperhatikannya. Usman malah masuk dalam bilik dan melakukan sesuatu didalam. Namun sejenak kemudian dia keluar sambil membawa seekor babi betina yang besar. Babi itu dipeluknya lantas keluar rumah.
Merawat babi.
Tentu saja Nabi Musa terkejut melihatnya. “ Apa yang dikerjakan oleh usman?” kata Nabi Musa berbisik dalam hatinya penuh keheranan. Babi itu dibersihkannya dan dimandikan dengan baik. Setelah babi itu dibersihkan sampai kering, Usman memeluk dan dan menciumnya. Lantas babi itu diantar ke tempat semula kedalam bilik. Tidak lama kemudian dia keluar sekali lagi dengan membawa pula seekor babi jantan yang lebih besar. Babi itu juga dimandikan dan dibersihkan,Kemudian dilap hingga kering dan dipeluk serta dicium dengan penuh kasih sayang. Babi itu kemudian diantar pula ke bilik tadi. Setelah selesai melakukan pekerjaannya itu. Ia baru melayani Nabi Musa. “ Wahai saudara, apa agamamu kamu?”
“Agama saya islam” jawab pemuda itu.
“ lalu mengapa kamu merawat babi. Agamamu tidak memperbolehkan itu,” kata Nabi Musa.
“ Wahai tuan hamba, sebenarnya kedua babi itu adalah ayah dan ibu kandungku. Mereka telah melakukan dosa yang besar, Allah telah mengubah muka mereka menjadi babi ini. Soal dosa mereka dengan Allah itu soal lain, Itu urusannya dengan Allah. Saya sebagai anaknya tetap melaksanakan kewajiban saya sebagai anak. Setiap hari saya berbakti kepada kedua orang tuaku seperti yang tuan hamba lihat tadi. Walaupun mereka sudah menjadi babi, saya tetap melaksanakan tugas saya,” sambungnya.
Doa Anak Saleh
Setelah sejenak menghela nafas. Usman kembali menlanjutkan kisahnya, “ Setiap hari saya berdoa kepada Allah agar mereka diampuni. Saya memohon supaya Allah mengembalikan wajah mereka menjadi manusia lagi, tetapi Allah masih belum mengabulkannya’” tambah pemuda itu lagi.
Maka saat itu juga Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa, “ Wahai Musa, inilah orang yang akan berteman denganmu disurga nanti. Hasil baktinya yang sangat tinggi kepada kedua orang tuanya . Kepada orang tuanya yang sudah menjadi babipun ia tetap berbakti. Oleh karena itu, kami naikkan maqamnya sebagai anak saleh di sisiku.”
Allah juga berfirman lagi, “ oleh karena dia telah berada di maqam anak yang saleh disisiku, maka Aku angkat doanya. Tempat kedua ayah-ibunya yang Aku sediakan di dalam neraka telah Aku pindahkan ke dalam surga. Itulah berkat anak yang saleh.”
Doa anak yang saleh dapat menebus dosa ayah-ibunya yang akan masuk neraka untuk pindah ke surga. Nabi Musa pun mengerti mengapa Usman akan menjadi orang yang mendampinginya di surga. Hal ini ternyata karena kecintaannya yang teramat dalam kepada kedua orang tuanya.

ooooo000ooooo


Rabu, 09 Juli 2014

Kisah NABI NUH AS ( Bag 2 )





Nabi Nuh Putus Asa atas sikap Kaumnya

 
Nabi Nuh berada di tengah-tengah kaumnya selama sembilan ratus lima puluh tahun berdakwah menyampaikan risalah Tuhan, mengajak mereka meninggalkan penyembahan berhala dan kembali menyembah dan beribadah kepada Allah Yang maha Kuasa memimpin mereka keluar dari jalan yang sesat dan gelap ke jalan yang benar dan terang, mengajar mereka hukum-hukum syariat dan agama yang diwahyukan oleh Allah kepadanya, mengangkat darjat manusia yang tertindas dan lemah ke tingkat yang sesuai dengan fitrah dan kodratnya dan berusaha menghilangkan sifat-sifat sombong dan congkak yang melekat pad para pembesar kaumnya dan mendidik agar mereka berkasih sayang, tolong-menolong diantara sesama manusia. Akan tetapi dalam waktu yang cukup lama itu, Nabi Nuh tidak berhasil menyadarkan dan menarik kaumnya untuk mengikuti dan menerima dakwahnya untuk beriman, bertauhid dan beribadat kepada Allah kecuali sekelompok kecil kaumnya yang tidak mencapai sempai seratus orang, walaupun ia telah melakukan tugasnya dengan segala daya-usahanya dan sekuat tenaganya dengan penuh kesabaran dan kesulitan menghadapi penghinaan, ejekan dan cercaan makian kaumnya, karena ia mengharapkan akan datang masanya di mana kaumnya akan sedar diri dan datang mengakui kebenarannya dan kebenaran dakwahnya. Harapan Nabi Nuh akan kesadaran kaumnya ternyata makin hari makin berkurang dan bahwa sinar iman dan takwa tidak akan menebus ke dalam hati mereka yang telah tertutup rapat oleh ajaran dan bisikan Iblis.
Kemudian Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya tidak akan seorang dari pada kaumnya mengikutimu dan beriman kecuali mereka yang telah mengikutimu dan beriman lebih dahulu, maka janganlah engkau bersedih hati karena apa yang mereka perbuatkan."
Dengan penegasan firman Allah itu, lenyaplah sisa harapan Nabi Nuh dari kaumnya dan habislah kesabarannya.
Ia memohon kepada Allah agar menurunkan Azab-Nya di atas kaumnya yang berkepala batu seraya berseru: "Ya Allah! Janganlah Engkau biarkan seorang pun daripada orang-orang kafir itu hidup dan tinggal di atas bumi ini. Mareka akan berusaha menyesatkan hamba-hamba-Mu, jika Engkau biarkan mereka tinggal dan mereka tidak akan melahirkan dan menurunkan selain anak-anak yang berbuat maksiat dan anak-anak yang kafir seperti mereka."
Doa Nabi Nuh dikalbulkan oleh Allah dan permohonannya diluluskan dan tidak perlu lagi menghiraukan dan mempersoalkan kaumnya, karena mereka itu akan menerima hukuman Allah dengan mati tenggelam. Nabi Nuh Membuat Kapal Setelah menerima perintah Allah untuk membuat sebuah kapal, segeralah Nabi Nuh mengumpulkan para pengikutnya dan mulai mereka mengumpulkan bahan yang diperlukan untuk maksud tersebut, kemudian dengan mengambil tempat di luar dan agak jauh dari kota dan keramaiannya mereka dengan rajin dan tekun bekerja siang dan malam menyelesaikan pembuatan kapal yang diperintahkan itu. Walaupun Nabi Nuh telah menjauhi kota dan masyarakatnya, agar dapat bekerja dengan tenang tanpa gangguan untuk menyelesaikan pembuatan kapalnya namun ia tidak luput dari ejekan dan cemoohan kaumnya yang kebetulan atau sengaja melalui tempat membuat kapal itu. Mereka mengejek dan mengolok-olok dengan mengatakan: "Wahai Nuh! Sejak kapan engkau telah menjadi tukang kayu dan pembuat kapal? Bukankah engkau seorang Nabi dan Rasul menurut pengakuanmu, kenapa sekarang menjadi seorang tukang kayu dan pembuat kapal. Dan kapal yang engkau buat itu di tempat yang jauh dari air ini apakah maksudmu untuk ditarik oleh kerbau ataukah mengharapkan angin yang akan menarik kapalmu ke laut?" Dan masih banyak lagi ejekan dan hinaan yang diterima oleh Nabi Nuh. Dengan sikap dingin dan tersenyum Nuh menjawab: " Baiklah tunggu saja saatnya nanti, jika kamu sekarang mengejek dan mengolok-olok kami maka akan tibalah masanya kelak bagi kami untuk mengejek kamu dan akan kamu ketahui kelak untuk apa kapal yang kami siapkan ini. Tunggulah saatnya azab dan hukuman Allah menimpa atas diri kamu."
Setelah menyelesaikan pekerjaan pembuatan kapal yang merupakan alat pengangkutan laut pertama di dunia, Nabi Nuh menerima wahyu dari Allah: "Siap-siaplah engkau dengan kapalmu, bila tiba perintah-Ku dan terlihat tanda-tanda daripada-Ku maka segeralah angkut bersamamu di dalam kapalmu dan kerabatmu dan bawalah dua pasang dari setiap jenis makhluk yang ada di atas bumi dan berlayarlah dengan izin-Ku."
Kemudian tercurahlah dari langit dan memancur dari bumi air yang deras dan dahsyat yang dalam sekejap mata telah menjadi banjir besar melanda seluruh kota dan desa menggenangi daratan rendah maupun tinggi bahkan mencapai puncak bukit-bukit sehingga tiada tempat berlindung dari air bah yang dahsyat itu kecuali kapal Nabi Nuh yang telah terisi penuh dengan para orang mukmin dan pasangan makhluk yang diselamatkan oleh Nabi Nuh atas perintah Allah.

Dengan iringan "Bismillah majraha wa mursaha" berlayarlah kapal Nabi Nuh dengan lajunya menyusuri lautan air, menentang angin yang kadang kala lemah lembut dan kadang kala ganas dan ribut. Di kanan kiri kapal terlihatlah orang-orang kafir bergelut melawan gelombang air yang menggunung berusaha menyelamat diri dari cengkaman maut yang sudah siap menerkam mereka di dalam lipatan gelombang-gelombang itu.
Tatkala Nabi Nuh berada di atas geladak kapal memperhatikan cuaca dan melihat-lihat orang-orang kafir dari kaumnya sedang bergelimpangan di atas permukaan air, tiba-tiba terlihatlah olehnya tubuh putera sulungnya yang bernama "Kan'aan" timbul tenggelam dipermainkan oleh gelombang yang tidak menaruh belas kasihan kepada orang-orang yang sedang menerima hukuman Allah itu. Pada saat itu, tanpa disadari, timbullah rasa cinta dan kasih sayang seorang ayah terhadap putera kandungnya yang berada dalam keadaan cemas menghadapi maut ditelan gelombang.



Nabi Nuh secara spontan, terdorong oleh suara hati kecilnya berteriak dengan sekuat suaranya memanggil puteranya:” Wahai anakku! Datanglah kemari dan gabungkan dirimu bersama keluargamu. Bertaubatlah engkau dan berimanlah kepada Allah SWT agar engkau selamat dan terhindar dari bahaya maut yang engkau jalani karena hukuman Allah SWT." Kan'aan, putera Nabi Nuh, yang tersesat dan telah terkena racun rayuan syaitan dan hasutan kaumnya yang sombong dan keras kepala itu menolak dengan keras ajakan dan panggilan ayah yang menyayanginya itu menjawab dengan kata-kata yang menentang: "Biarkanlah aku dan pergilah, jauhilah aku, aku tidak sudi berlindung di atas geladak kapalmu, aku dapat menyelamatkan diriku sendiri dengan berlindung di atas bukit yang tidak akan dijangkau oleh air bah ini."

Nuh menjawab: "Percayalah bahawa tempat satu-satunya yang dapat menyelamatkan engkau ialah bergabung dengan kami di atas kapal ini. Masa tidak akan ada yang dapat melepaskan diri dari hukuman Allah yang telah ditimpakan ini kecuali orang-orang yang memperolehi rahmat dan keampunan-Nya."
Setelah Nabi Nuh mengucapkan kata-katanya tenggelamlah Kan'aan disambar gelombang yang ganas dan lenyaplah ia dari pandangan mata ayahnya, tergelincirlah ke bawah lautan air mengikuti kawan-kawannya dan pembesar-pembesar kaum Nuh yang durhaka itu.
Nabi Nuh bersedih hati dan berduka cita atas kematian puteranya dalam keadaan kafir tidak beriman dan belum mengenal Allah.
Beliau berkeluh-kesah dan berseru kepada Allah: "Ya Tuhanku, sesungguhnya puteraku itu adalah darah dagingku dan adalah bagian dari keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu adalah janji benar dan Engkaulah Maha Hakim yang Maha Berkuasa."
Kepadanya Allah berfirman: "Wahai Nuh! Sesungguhnya dia puteramu itu tidaklah termasuk keluargamu, karena ia telah menyimpang dari ajaranmu, melanggar perintahmu menolak dakwahmu dan mengikuti jejak orang-orang yang kafir daripada kaummu. Coretlah namanya dari daftar keluargamu.Hanya mereka yang telah menerima dakwahmu mengikuti jalanmu dan beriman kepada-Ku dapat engkau masukkan dan golongkan ke dalam barisan keluargamu yang telah Aku janjikan perlindungannya dan terjamin keselamatan jiwanya. Adapun orang-orang yang mengingkari risalah mu, mendustakan dakwahmu dan telah mengikuti hawa nafsunya dan tuntutan Iblis, pastilah mereka akan binasa menjalani hukuman yang telah Aku tentukan walau mereka berada dipuncak gunung. Maka janganlah engkau sesekali menanyakan tentang sesuatu yang engkau belum ketahui. Aku ingatkan janganlah engkau sampai tergolong ke dalam golongan orang-orang yang bodoh."

Nabi Nuh sadar segera setelah menerima teguran dari Allah bahwa cinta kasih sayangnya kepada anaknya telah menjadikan ia lupa akan janji dan ancaman Allah terhadap orang-orang kafir termasuk puteranya sendiri. Ia sadar bahawa ia tersesat pada saat ia memanggil puteranya untuk menyelamatkannya dari bencana banjir yang didorong oleh perasaan naluri darah yang menghubungkannya dengan puteranya padahal sepatutnya cinta dan taat kepada Allah SWT harus mendahului cinta kepada keluarga dan harta-benda. Ia sangat menyesal akan kelalaian dan kealpaannya itu dan menghadap kepada Allah SWT memohon ampun
dengan berseru: "Ya Tuhanku aku berlindung kepada-Mu dari godaan syaitan yang terlaknat, ampunilah kelalaian dan kealpaanku sehingga aku menanyakan sesuatu yang aku tidak mengetahuinya. Ya Tuhanku bila Engkau tidak memberi ampun dan menurunkan rahmat bagiku, niscaya aku menjadi orang yang rugi."
Setelah air bah itu mencapai puncak keganasannya dan habis binasalah kaum Nuh yang kafir dan zalim sesuai dengan kehendak dan hukum Allah, surutlah lautan air diserap bumi kemudian bertambatlah kapal Nuh di atas bukit " Judie " dengan iringan perintah Allah kepada Nabi Nuh: "Turunlah wahai Nuh ke darat engkau dan para mukmin yang menyertaimu dengan selamat dilimpahi barakah dan inayah dari sisi-Ku bagimu dan bagi umat yang menyertaimu."

oooOOOooo