Berbuat baik kepada kedua orang tua hukumnya wajib,
baik waktu kita masih kecil, remaja atau sudah menikah dan sudah mempunyai anak
bahkan saat kita sudah mempunyai cucu. Ketika kedua orang tua kita masih muda
atau sudah lanjut usianya bahkan pikun kita tetap wajib berbakti kepada
keduanya. Mereka membesarkan kita dengan penuh kasih sayang dan berbagai
pengorbanan. Sudah sepatutnya bagi kita sebagai anaknya untuk membalas jasa
mereka dengan memuliakan dan menyayangi mereka dengan tulus, termasuk ketika orang
tua yang telah tiada. Berikuat cara sederhana berbakti kepada kedua orangtua :
1. Selalu taati mereka berdua di dalam perkara
selain maksiat, dan tidak ada ketaatan kepada makhluk di dalam bermaksiat
kepada sang Khalik.
2. Lemah lembutlah kepada kedua orangtuamu,
janganlah bermuka masam serta memandang mereka dengan pandangan yang sinis.
Penuhi panggilan mereka dengan segera dan disertai wajah yang berseri dan
menjawab, “Ya ibu, ya ayah”.
3. Hargai perjuangan dan kerja keras orang tua
dalam menafkahi kita, dan hal lain semisalnya yang notabene perjuangan tersebut
adalah untuk membuat kita menjadi lebih baik. Jagalah nama baik, kemuliaan,
serta harta mereka. Janganlah engkau mengambil sesuatu tanpa seizin mereka. dan
kerjakanlah perkara yang dapat meringankan beban mereka serta
bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu.
4. Kerjakanlah
perkara-perkara yang dapat meringankan beban mereka meskipun tanpa diperintah.
Seperti melayani mereka dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya, serta
bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu.
5. Bermusyawarahlah
dengan mereka berdua dalam seluruh kegiatanmu. Dan berikanlah alasan yang baik
jika engkau terpaksa menyelisihi pendapat mereka.
6. Janganlah engkau bantah dan engkau salahkan
mereka berdua. Santun dan beradablah ketika menjelaskan yang benar kepada
mereka. Janganlah berbuat kasar kepada mereka berdua, dan jangan pula engkau
angkat suaramu kepada mereka. Diamlah ketika mereka sedang berbicara,
beradablah ketika bersama mereka.
7. Bersegeralah menemui keduanya jika mereka
mengunjungimu, dan ciumlah kepala mereka.
8. Bantulah ibumu di rumah. Tidak ada salahnya
bagi kita untuk membantu meringankan beban orang tua, seperti halnya membantu
mencuci piring, menyapu halaman, mengepel lantai, membersihkan rumah dan
lainnya. Meskipun mungkin kita tidak dapat
setiap hari membantu dalam meringankan pekerjaan-pekerjaan tersebut, tapi
niscaya itu akan membuat orang tua merasa bahagia.
9. Dan jangan pula engkau menunda membantu
pekerjaan ibumu. Jika orang tua memerintahkan suatu hal kepada kita, yang mana
hal tersebut dapat kita jalankan, maka janganlah menolak atau menunda-nunda
jika memang kita tidak memiliki udzur dalam perkara tersebut. Sungguh tidak
pantas ketika tiba saatnya orang tua kita memerintahkan kita untuk melakukan
suatu perkara yang sanggup kita kerjakan, namun kita mencari-cari alasan untuk
mengelak dari perintah tersebut.
10. Janganlah engkau pergi jika mereka berdua
tidak mengizinkan meskipun itu untuk perkara yang penting. Apabila kondisinya
darurat maka berikanlah alasan ini kepada mereka dan janganlah putus komunikasi
dengan mereka.
11.
Janganlah engkau berdusta kepada mereka dan jangan mencela mereka jika mereka
mengerjakan perbuatan yang tidak engkau sukai. Berusahalah untuk menahan sabar
dan amarah.
12. Jangan engkau utamakan istri dan anakmu di
atas mereka. Mintalah keridhaan mereka berdua sebelum melakukan sesuatu karena
ridha Allah tergantung ridha orang tua. Begitu juga kemurkaan Allah tergantung
kemurkaan mereka berdua.
13. Jangan
engkau duduk di tempat yang lebih tinggi dari mereka. dan Jangan pula engkau
julurkan kakimu di hadapan mereka karena sombong.
14. Jangan
engkau menyombongkan kedudukanmu di hadapan bapakmu meskipun engkau seorang
pejabat besar. Hati-hati, jangan sampai engkau mengingkari kebaikan-kebaikan
mereka berdua atau menyakiti mereka walaupun dengan hanya satu kalimat. Doa
kedua orang itu mustajab baik dalam kebaikan maupun doa kejelekan. Maka
berhati-hatilah dari doa kejelekan mereka atas dirimu.
15. Jangan
pelit dalam memberikan nafkah kepada kedua orang tua sampai mereka mengeluh.
Ini merupakan aib bagimu. Engkau juga akan melihat ini terjadi pada anakmu.
Sebagaimana engkau memperlakukan orang tuamu, begitu pula engkau akan
diperlakukan sebagai orang tua.
16.
Banyaklah berkunjung kepada kedua orang tua, dan persembahkan hadiah bagi
mereka. Berterimakasihlah atas perawatan mereka serta atas kesulitan yang
mereka hadapi. Hadiah tidak haruslah yang mahal, namun yang penting dapat
menyenangkan orang tua kita. Hendaknya
engkau mengambil pelajaran dari kesulitanmu serta deritamu ketika mendidik
anak-anakmu.
17. Orang
yang paling berhak untuk dimuliakan adalah ibumu, kemudian bapakmu. Dan
ketahuilah bahwa surga itu di telapak kaki ibu-ibu kalian. Bahwasanya kedua
orang tua itu adalah ‘ladang pahala’ untuk kita menggapai surga Allah ‘Azza wa
Jalla. Terdapat kemuliaan tatkala seorang anak ikhlas dan sadar dalam
memuliakan serta berbakti kepada kedua orang tuanya dalam perkara-perkara yang
ma’ruf (perkara yang baik dan tidak melanggar syariat). Dan sungguh celaka dan
merugi bagi seorang anak yang tatkala kedua orang tua atau salah satunya masih
hidup lantas ia enggan merawatnya, enggan berbakti kepada mereka terlebih
tatkala orang tua sudah renta, bahkan sampai membiarkan orang tua terlantar
tanpa perhatian dan kasih sayang dari anak-anaknya.
18.
Berhati-hati dari durhaka kepada kedua orang tua serta dari kemurkaan mereka.
Engkau akan celaka dunia akhirat. Anak-anakmu nanti akan memperlakukanmu sama
seperti engkau memperlakukan kedua orangtuamu.
19. Jika engkau meminta sesuatu kepada kedua orang
tuamu, mintalah dengan lembut dan berterima kasihlah jika mereka memberikannya.
Dan maafkanlah mereka jika mereka tidak memberimu. Janganlah banyak meminta
kepada mereka karena hal itu akan memberatkan mereka berdua.
20. Jika
engkau mampu mencukupi rezeki mereka maka cukupilah, dan bahagiakanlah kedua
orangtuamu. Sesungguhnya orang tuamu punya hak atas dirimu. Begitu pula
pasanganmu (suami/istri) memiliki hak atas dirimu. Maka penuhilah haknya masing-masing.
Berusahalah untuk menyatukan hak tersebut apabila saling berbenturan.
Berikanlah hadiah bagi tiap-tiap pihak secara diam-diam.
21. Jika kedua orang tuamu bermusuhan dengan
istrimu maka jadilah engkau sebagai penengah. Dan pahamkan kepada istrimu bahwa
engkau berada di pihaknya jika dia benar, namun engkau terpaksa melakukannya
karena menginginkan ridha kedua orang tuamu.
22. Jika
engkau berselisih dengan kedua orang tuamu di dalam masalah pernikahan atau
perceraian, maka hendaknya kalian berhukum kepada syari’at karena syari’atlah
sebaik-baiknya pertolongan bagi kalian.
23.
Beradablah yang baik kepada orang-orang. Siapa yang mencela orang lain maka
orang tersebut akan kembali mencelanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda,
“Termasuk dosa
besar adalah seseorang mencela kedua orang tuanya dengan cara dia mencela
bapaknya orang lain, maka orang tersebut balas mencela bapaknya. Dia mencela
ibu seseorang, maka orang tersebut balas mencela ibunya.” (Muttafaqun ‘alaihi).
24.
Kunjungilah mereka disaat mereka hidup dan ziarahilah ketika mereka telah
wafat. Bershadaqahlah atas nama mereka dan banyaklah berdoa bagi mereka berdua
dengan mengucapkan,
“Wahai
Rabb-ku ampunilah aku dan kedua orang tuaku. Waha Rabb-ku, rahmatilah mereka
berdua sebagaimana mereka telah merawatku ketika kecil”. (*)
26. Doa Anak Yang Shalih Untuk Orang Tua Yang
Telah Meninggal
Bagi Kaum Muslimin yang mana kedua orang tua atau salah satunya telah tiada, bahwasanya doa dari anak yang sholeh begitu luar biasa memberi manfaat bagi orang tua yang telah meninggal. Telah banyak hadits yang menerangkan tentang bagaimana kebaikan yang akan didapatkan orang tua di kehidupan setelah mati tatkala memiliki anak-anak yang sholeh yang mau mendoakan mereka. Dan shaleh ataupun shalehah itu harus diperjuangkan dengan cara taat pada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengikuti tuntunan Rasul-Nya, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Sebaliknya anak-anak yang tidak mau taat kepada perintah Alloh dan sebaliknya gemar berbuat dosa akibat meninggalkan shalat, berbuat maksiat, tidak mau belajar ilmu agama dan hal-hal yg dibenci Alloh serta RasulNya.. maka sang anak hanya akan memberikan beban berat yang harus dipertanggung jawabkan orang tuanya di yaumul akhirat
Bagi Kaum Muslimin yang mana kedua orang tua atau salah satunya telah tiada, bahwasanya doa dari anak yang sholeh begitu luar biasa memberi manfaat bagi orang tua yang telah meninggal. Telah banyak hadits yang menerangkan tentang bagaimana kebaikan yang akan didapatkan orang tua di kehidupan setelah mati tatkala memiliki anak-anak yang sholeh yang mau mendoakan mereka. Dan shaleh ataupun shalehah itu harus diperjuangkan dengan cara taat pada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengikuti tuntunan Rasul-Nya, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Sebaliknya anak-anak yang tidak mau taat kepada perintah Alloh dan sebaliknya gemar berbuat dosa akibat meninggalkan shalat, berbuat maksiat, tidak mau belajar ilmu agama dan hal-hal yg dibenci Alloh serta RasulNya.. maka sang anak hanya akan memberikan beban berat yang harus dipertanggung jawabkan orang tuanya di yaumul akhirat
Kita tak perlu ragu
meyakini bahwa sesayang apapun kita terhadap anggota keluarga, ayah, ibu, adik,
ataupun kakak pada suatu saat kita juga akan dipisahkan oleh maut yang
mengantarkan kita pulang pada Yang Maha Kuasa.
Sebagai seorang anak
ada beberapa amalan yang tetap bisa dilakukan agar tetap bisa berbakti kepada
orang tua. Amalan berikut ini merupakan suatu tambahan bekal bagi kedua orang
tua yang dapat lebih menjamin tempat mereka di sisi Allah SWT.
1.Beristighfar bagi keduanya
Hal ini merupakan yang
paling ringan untuk dilakukan, kita doakan setap habis salat wajib, atau
waktu-waktu ijabah, “rabbighfirlii waliwadayya warhamhuma kama rabbayani
shagira”.
Semoga bibir kita tidak
pernah kering dan lelah mengucap doa tersebut.
Dalam sebuah hadist
qudsi disebutkan
عن أبي هريرة رضي الله عنه فيما رواه الإمام البخاري
قال عليه الصلاة والسلام
تُرْفَعُ
لِلْمَيِّتِ بَعْدَ مَوْتِهِ دَرَجَةً فَيَقُوْلُ: أَيْ رَبِّي أَيُّ شَيْءٍ هذَا
؟ فَيَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَلَدُكَ اِسْتَغْفَرَ لَكَ
“diangkat derajat seorang yang sudah mati, kemudian berkata “Ya
Rabb apa (penyebab) ini”? kemudian Allah Menjawab, “anak mu memohonkan ampun
untuk mu”.
2.Berdoa segala yang baik bagi keduanya .
Dalam sebuah hadist
juga disebutkan
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا
مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ
صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya
kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a
anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)
3.Melunasi segala hutang-hutangnya
Sebagai anak yang
berbakti melunasi hutang orang tua ialah tanggung jawab, dan keluarga besar
almarhum juga harus memberikan bantuan untuk menyelesaikan permasalahan hutang
yang telah meninggal.
Terkadang terjadi
problem ketika hutang yang muncul begitu besar sedangkan penghasilan si anak
masih cukup minim. Tapi komitmen untuk melunasi harus tetap ditunjukkan oleh
anak si orang tua yang berhutang tersebut agar membantu nasib orang tua di
akhirat kelak.
Meskipun terasa berat,
percayalah bahwa Allah akan mengirimkan bantuan bagi setiap yang
berhutang untuk melunasinya. Adapun bila diantara kita yang jadi pihak yang
dihutangi tentunya perlu memberi jangka waktu yang cukup agar ringan untuk
dilunasi si penghutang. Karena permasalahan hutang ialah permasalahan serius
yang perlu dituntaskan dengan baik. Ada sebuah hadist menyebutkan
عنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
-صلى الله عليه وسلم- « نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى
عَنْهُ
».
Artinya: “Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Ruh seorang beriman tergantung dengan hutangnya, sampai dilunasi hutangnya.”
HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no.
6779.
4.Menuntaskan nadzar , kafarat, dan wasiat
Ketiga hal tersebut
harus diupayakan untuk juga dituntaskan dengan baik meski butuh waktu dan
proses melaksanakannya
عن ابن عباس : أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَة جَاءَتْ
إِلىَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ : إِنَّ أُمِّي
نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمَ تَحُج حَتَّى ماَتَتْ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا ؟ قاَلَ :
حُجِّي عَنْهَا
Artinya
Dari ibnu abbas,
sesungguhnya seorang wanita dari Juhainah, datang kepada Nabi saw. lalu dia
bertakata:"sesungguhnya ibu saya teleh bernazar melakukan haji, dia
meninggal sebelum melaksanakan nazar hajinya. Apakah boleh melukan haji
menggantikannya? Nabi menjawab:" lalukan haji untuknya" (HR.Bukhori)
Bersilaturahim kepada
para kerabat dan sahabat keduanya dan menghormati mereka.
Ternyata kebiasaan
setelah bulan Ramadan dengan bersilaturrahim kepada sanak kerabat orang tua
keluarga yang telah meninggal ada tuntunannya dalam Islam. Hal ini juga
termasuk bakti kepada orang tua dengan terus menjaga hubungan baik dengan siapa
saja yang dulunya berkenalan baik dengan orang tua kita.
" مَنْ
أَحَبَّ أَنْ يَصِلَ أَبَاهُ فِي قَبْرِهِ فَلْيَصِلْ إِخْوَانَ أَبِيهِ بَعْدَهُ "
“barang siapa suka
untuk bersilaturrahim dengan bapakna di kuburannya maka bersilaturrahim-lah kepada
teman-teman bapaknya setelah kematiannya.
Adapula hadist lain
yang memiliki makna cukup sama dengan hadist di atas yaitu :
رواه مسلم في صحيحه 2552" إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ
صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ ".
“sesungguhnya suatu hal paling berbakti
ialah silaturrahim seorang anak pada kerabat yang mencintai ayahnya”(H.R.
Muslim)
Bersedekah agar
bermanfaat bagi keduanya.
عنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ - رضى الله عنه -
تُوُفِّيَتْ أُمُّهُ وَهْوَ غَائِبٌ عَنْهَا ، فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ
أُمِّى تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا ، أَيَنْفَعُهَا شَىْءٌ إِنْ
تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ » . قَالَ فَإِنِّى أُشْهِدُكَ أَنَّ
حَائِطِى الْمِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَا
Artinya
" Sesungguhnya Ibu
dari Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu meninggal dunia, sedangkan Sa’ad pada
saat itu tidak berada di sampingnya. Kemudian Sa’ad mengatakan, ‘Wahai
Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal, sedangkan aku pada saat itu
tidak berada di sampingnya. Apakah bermanfaat jika aku menyedekahkan sesuatu
untuknya?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Iya, bermanfaat.’
Kemudian Sa’ad mengatakan pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kalau
begitu aku bersaksi padamu bahwa kebun yang siap berbuah ini aku sedekahkan
untuknya’" (HR.Bukhari)
Bagaimana keutamaan
berbakti orang tua dalam Hadist Nabawy, diantaranya sebagaimana dijelaskan
riwayat-riwayat berikut :
1.Lebih mulia daripada jihad
Beberapa riwayat hadist
menjelaskan bahwa pertanyaan pertama bagi seorang pemuda yang hendak berjihad
ialah menanyakan apakah kedua orang tuanya masih hidup, apakah kedua orang
tuanya mengizinkannya untuk pergi berjihad, apakah orang tuanya begitu
membutuhkan anaknya tersebut untuk dapat membantu mereka.
لحديث عبدالله بن عمر رضي الله عنهما قال: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ يَسْتَأْذِنُهُ فِي الجِهَادِ فَقَالَ: أَحَيٌّ وَالدَاكَ؟ قاَلَ: نَعَمْ، قال: فَفِيْهِمَا فَجَاهِدْ
“Abdullah bin ‘Amr bin Ash r.a. berkata bahwa ada seorang lelaki
yang datang kepada Nabi saw. Dia meminta izin untuk ikut berperang. Maka
Rasulullah saw bertanya kepadanya, “Apakah kedua orangtuamu masih hidup ?” Dia
menjawab, “Ya.” Rasulullah saw bersabda, “Berjuanglah untuk kepentingan
mereka.” (HR Bukhari Muslim)
Hadist di atas juga
menjadi catatan bagi fenomena gerakan terorisme, yang mengaku mengatasnamakan
jihad untuk melakukan apa saja, apakah oknum mereka merekut para pengantin
(pelaku bom bunuh diri) atau tindakan terror lainnya telah meminta izin dari
orang tua mereka?, apakah mereka tidak sadar bahwa ternyata berbakti kepada
orang tua pada usia muda ialah suatu keutamaan agama ? Mengapa mereka justru
mendahulukan suatu hal yang justru menyakiti hati para orang tua mereka dengan
melakukan tindakan terror ? … dan mungkin masih banyak lagi pertanyaan yang
seharusnya menyadarkan kita bahwa terorisme bukanlah bagian dari ajaran agama
Islam.
2. Orang Tua ialah pintu surga
Ternyata cara masuk
surga tidak perlu jauh-jauh, ada pintu yang mudah dan istimewa yaitu berbakti
kepada orang tua.
فعن أبي الدرداء رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله يقول: الوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنَّ شِئْتُ فَأَضَعُ ذَلِكَ الْباَبَ أَوْ اَحْفَظُهُ
“ORANG TUA adalah PINTU SURGA YANG PALING TENGAH, terserah kamu,
hendak kamu terlantarkan ia, atau kamu hendak menjaganya”(Hadist riwayat
Tirmidzi)
Maksud pintu surga yang
paling tengah adalah pintu yang PALING BAGUS dan PALING TINGGI. Dengan kata
lain, sebaik-baik sarana yang bisa mengantarkan seseorang ke dalam surga dan
meraih derajat yang tinggi adalah dengan mentaati orangtua dan menjaganya.”
Selain itu ada pula
hadist yang menyatakan kerugian dan celaka bagi orang yang tidak berbaki kepada
orang tua :
وعن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ، قِيْلَ :مَنْ ياَ رَسُوْلُ اللهِ ؟ قال : مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُل الْجَنّةَ
Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh celaka… sungguh celaka… sungguh celaka..”,
lalu dikatakan, “Siapakah itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Yakni orang
yang mendapatkan salah satu
orangtuanya, atau kedua
orangtuanya berusia lanjut, namun ia tidak masuk surga.” (HR Muslim)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar