Jumat, 20 Maret 2015

Do’a Mendengar Petir



سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ 
 SUBHAANALLADZI YUSABBIHURRO’DU BIHAMDIHI WAL MALAA IKATU MIN KHIIFATIH 
Artinya: “Maha Suci Allah, petir dan malaikat bertasbih memuji-Nya karena tunduk kepada-Nya.”(HR. Imam Malik)

Selasa, 17 Maret 2015

DO’A PARA ROSUL, SAHABAT NABI DAN ULAMA’



DO’A NABI ADAM AS TATKALA DITURUNKAN KE BUMI
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْـفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَـغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ (الاعراف: 23)
Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engakau tidak mengampuni kami, dan memebri rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.
DO’A NABI IBRAHIM AS
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوْا الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ (ابراهيم: 37)
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudahmudahan mereka bersyukur.
رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ ءَامِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ اْلأَصْنَامَ (ابراهيم: 38)
Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari pada menyembah berhala-berhala.
رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ وَمَا يَخْفَى عَلَى اللهِ مِنْ شَيْءٍ فِي ا ْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ (ابراهيم: 38)
Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan, dan tidak ada sesuatu apaun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيْمَ الصَّلاَةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ (ابراهيم: 40)
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami perkenankanlah do’aku.
رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ (ابراهيم: 41)
Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mu’min pada hari terjadinya hisab (hari kiyamat).
رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِيْنَ. وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي اْلآخِرِيْنَ. وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيْمِ. (الشعراء: 83-85)
(Ibrahim berdo’a) “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shaleh. Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang dating) kemudian. Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai syurga yang penuh kenikmatan.
DO’A NABI NUH AS
رَبِّ إِنَّ قَوْمِي كَذَّبُوْنِ. فَافْتَحْ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ فَتْحًا وَنَجِّنِي وَمَنْ مَعِيَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ (الشعراء: 117-118)
“Ya Tuhanku, seungguhnya kaumku talah mendustakan aku, maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang mu’min besertaku.”
DO’A NABI LUTH AS
رَبِّ نَجِّنِي وَأَهْلِي مِمَّا يَعْمَلُوْنَ (الشعراء: 169)
(Luth berdoa’a) “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku besetra keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka lakukan.”
رَبِّ انْصُرْنِي عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِيْنَ (الانكبوت: 30)
“Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu.”
DO’A NABI SYU’AIB AS
رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ (الاعراف: 89)
" Robbana taf bainana, wa baina kaumina bil haqqi , wa anta khoirul fatihin " ( Al ‘araf; 89 )
“Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.
DO’A NABI MUSA AS
رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي (القصص: 16)
" Robbi inni dholamtu nafsi fa firlhi " (al qhosos ; 16)
“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku.


DO’A NABI YUSUF AS
رَبِّ قَدْ ءَاتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيْلِ اْلأَحَادِيْثِ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِيْنَ (يوسف: 101)
“Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagaian ta’bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan akherat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shaleh.”
DO’A  NABI SULAIMAN AS
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ (النمل: 19)
" Robbi auzidni an askhuro ni’matakallati an amta allaya wa ala wa li dayya wa an a’mala sholikhan tardhohu wa ad khilni birrohmatika fi ibadikas sholikhin " (an naml; 19)


"Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni`mat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh".
DO’A NABI ISA AS
رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُوْنُ لَنَا عِيْدًا لِأَوَّلِنَا وَءَاخِرِنَا وَءَايَةً مِنْكَ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ (المائدة: 114)
"Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezkilah kami, dan Engkaulah Pemberi rezki Yang Paling Utama".
DO’A NABI MUHAMMAD SAW
اَللّهُمَّ اِنِّى أَسْئَلُكَ رَحْمَةً مِنْ عِنْدَكَ تَهْدِى بِهَا قَلْبِى وَ تَجْمَعُ بِهَا شَمْلِى وَ تَرُدُّ بِهَا الْفِـتْنَةَ عَنِّى
Ya Alloh, sesungguhnya aku mohon rahmat dari-Mu untuk petunjuk hatiku, mengutuhkan keluargaku dan menghindarkan fitnah dari padaku.
DO’A SITI AISYAH RA
اللّهُمَّ اِنِّى اَسْئَلُكَ مِنْ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِه وَاجِلِه مَاعَلِمْتُ مِنْهُ وَمَالَمْ اَعْلَمُ وَاَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّه عَاجِلِه وَاجِلِه مَاعَلِمْتُ مِنْهُ وَمَالَمْ اَعْلَمُ.
Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dari kebaikan yang segera tiba atau yang bakal tiba, yang aku ketahui atau yang belum. Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan yang segera tiba atau yang bakal tiba yang aku ketahui atau tidak tahu.
DO’A SITI FATIMAH RA
يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ اَسْتَغِيْثُ لاَ تَكِلْنِى اِلَى نَفْسِى طَرْفَةَ عَيْنِى وَ اَصْلِحْ لِى شَأْنِى كُلِّهِ
“Ya Allah, yang Hidup dan Berdiri Sendiri. Aku mohon pertolongan belas kasihMu, janganlah membiarkanku meskipun sekejap mata, dan perbaikilah segala urusanku.”
DO’A IMAM GHOZALI
اَللّهُمَّ اَجِرْنَا مِنَ الـنَّارِ وَ مِنْ عَذَابِ الـنَّارِومن كل عمل يقربناالي النار وَ اَدْخِلْنَا الْجَـنَّةَ مَعَ اْلاَبْرَارِ بِرَحْمَتِكَ يَا عَزِيْزُ يَا غَفَّارُ. اَللّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا وَ امِنْ رَوْعَاتِنَا وَ اَقِلْناَ عَثَرَاتِنَا وَ لاَ تْفْضَحْنَا بَيْنَ يَدَيْكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلىَ سَيِِّدنَا مُحَمَِّد النَّبِىِ اْلاُمَّيَّ وَ عَلىَ اَلهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلَّمَ.
“Ya Allah, selamatkanlah kami dari neraka dan dari siksa neraka dan dari setiap amal yang bisa mendekatkan kami ke neraka, dan masukkanlah kami ke dalam syurga bersama orang-orang yang baik-baik dengan mendapat rahmat-mu, Ya Allah, tutuplah aurat kami, amankanlah ketakutan kami, hentikanlah langkah kami yang salah dan janganlah membongkar ‘aib kami dihadapan-Mu. Ya Allah Dzat yang paling Penyayang.

Sabtu, 14 Maret 2015

ADAB DAN KEWAJIBAN SAAT SAKIT



Hidup adalah ujian dan Segala sesuatu yang dialami di dunia ini adalah cobaan Allah SWT. Salah satu bentuk ujian yang diberikan oleh Allah kepada manusia adalah sakit. Kebanyakan manusia cenderung menganggap bahwa cobaan atau ujian hidup terbatas pada hal-hal yang tidak menyenangkan seperti bencana alam , kebangkrutan, sakit atau musibah. Tanpa disadari bahwa nikmat berupa kesehatan, kekayaan, kesenangan dan jabatan adalah ujian yang lebih berat dari ujian kesukaran hidup. Sebagai orang beriman, kita wajib mempercayai bahwa dibalik segala sesuatu yang terjadi pada manusia pasti ada hikmahnya.
A.   Adab Dan Kewajiban Orang Yang Sakit
         1.    Berobat
Dalam keadaan sekalipun manuisa tetap diwajibkan untuk selalu berusaha. Baik itu secara lahiriah (berobat dan memeriksakan diri kepada Ahlinya) mupun batiniyyah(kontak batin dengan Allah SWT, yaitu selalu berdoa dan memohon kesembuhan kepada Allah SWT.)
         2.    Sabar Dan Ikhtiar
         3.    Tetap melakukan ibadah
Agama islam itu luwes dan mudah dilakukan. Islam memberikan keringanan kepada pemeluknya yang sakit dalam melaksanakan rukun shalat mapun syarat-syarat yang lain seperti bersuci (thaharah), tayamum dan sebagainya.cara melakukannyapun bisa dilakukan sesuai kemampuan seperti duduk, berbaring atau dengan cara lain yang tidak memberatkan diri.
        4.    Tawakal dan tidak putus asa
        5.    Memperbanyak dzikir
        6.    Memantapkan iman dan akhlak
        7.    Memperbanyak istighfar kepada Allah swt. Dan bermusahabah diri (introspeksi diri)

B.   Keutamaan Orang Yang Sakit
Diantara keutamaan-keutamaan yang akan diperoleh seorang muslin yang sabar dan ikhlas dikala sakit adalah :
        1.    Doa orang sakit termasuk doa yang mustajab sebagaimana doa malaikat. Dalam sebuah hadits disebutkan :
“jika kamu datang mengunjungi si sakit, maka mintalah ia berdoa untukmu karena doanya seperti doa malaikat (yakni besar kemungkinan dikabulkan.)” (HR. Ibnu Majjah, dari Umar ra.)
          2.    Bagi orang yang menderita cacat mata dan dia bersabar, maka Allah swt. Menjanjikan balasannya yaitu surga. Sebagaimana dalam hadits disebutkan :
“ Jika Aku menguji hamba-Ku dengan (menghilangkan penglihatan) kedua mata yang sangat dicintainya kemudian dia bersabar, Aku akan menggantinya dengan surga.” (HR.Bukhari)
          3.    Orang yang bersabar terhadap penyakit yang di deritanya termasuk penduduk surga.
        4.    Bagi orang yang biasa mengerjakan kebaikan semasa lapang dan sehatnya, akan tetap dicatatkan untuknya pahala kebaikannya jika ia terhalang karena sakit.

C.   Himah Yang Dapat Dipetik Bagi Orang Yang Sakit.

          1.    Ampunan bagi dosa dan kesalahan
Manusia seringkali melakukan kesalahan , baik disengja maupun tidak disengaja. Sedang musibah yang menimpa tubuh manusia, dapat menjadi ampunan bagi kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya. Allah Swt. Berfirman :
“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. (QS.Asyuro:30)
          2.    Berbagai amalan kebaikan dicatat dan derajat ditinggikan.
Rasulullah Saw bersabda” “tidaklah seorang muslim tertusuk atau yang lebih kecil dari duri melainkan ditetapkan baginya satu derajat dan dihapuskan darinya satu kesalahan”.
          3.    Pembuka jalan ke surga
          4.    Keselamatan dari api neraka
          5.    Mengembalikan Hamba kepada Tuhan-Nya dan mengingatkan kelalaiannya.
Biasanya jika seseorang dalam keadaan sehat walafiat, mereka sering terlena dan tenggelam dalam kenikmatan dan syahwat.akan tetapi jika Allah mencoba suatu musibah, maka dia baru menyadari sdan bisa merasakan kelemahan, kehinaan dan ketidakmampuannya dihadapan Allah dengan penuh penyesalan dan kepasrahan diri.
          6.    Mengingatkan manusia akan nikmat Allah yang lalu dan yang ada.
          7.    Mensucikan hati dari berbagai penyakit .

D.   Keutamaan Menjenguk Orang Sakit
Salah satu dari adab kesopanan islam, ialah agar orang Islam itu menjenguk orang yang sakit dan mengetahui keadaannya, demi untuk menghibur hatinya dan menunaikan haknya. Berkata Ibnu Abbas r.a.: "Menjenguk si sakit di pagi hari adalah sunnah, dan jika setelah itu, sukarela." Mengenai hadits-hadits keutamaan menjenguk orang sakit, ada banyak, diantaranya: 
  1. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abu Hurairah r.a., katanya: Telah bersabda Rasulullah saw.: "Siapa yang menjenguk orang yang sakit, maka akan terdengarlah seruan dari langit: Baik sekali perbuatan Anda, baik sekali kunjungan Anda, dan Anda telah menyediakan suatu tempat tinggal dalam surga."
  2. Diterima dari Tsauban bahwa nabi saw. bersabda: "Seorang Muslim bila menjenguk saudaranya yang Muslim akan selalu berada di tengah khurfah surga sampai ia kembali." Ketika ditanyakan orang apa artinya khurfah surga itu, maka ujarnya: "Hasil buahnya."
  3. Diterima dari Ali r.a. bahwa ia mendengar Nabi saw. bersabda: "Setiap Muslim yang menjenguk Muslim lainnya di waktu pagi, akan didoakan oleh tujuh puluh ribu Malikat sampai sore, dan jika ia menjenguknya di waktu sore, akan didoakan oleh tujuh puluh ribu Malaikaat hingga waktu pagi, sedang dalam surga tersedia buah-buahan yang telah dipetik."
E.   Adab Menjenguk Orang Sakit
  1. Disunnatkan mendo'akan si sakit agar cepat sembuh dan sehat kembali,
  2. memberinya nasihat agar tabah dan sabar,
  3. menyampaikan ucapan-ucapan yang baik yang dapat menghibur hati dan menguatkan jiwanya.
  4. Dan disunahkan memendekkan waktu berkunjung, dan menjarangkannya sepatutnya agar tidak menyusahkan si sakit, kecuali jika ia menghendaki sebaliknya.
  5. Minta dido'akan oleh si sakit.
  6. Sebaiknya untuk keluarga pasien disamping menungguinya / mendampingi selama dalam perawatan, juga yang tak kalah pentingnya adalah mengingatkan dan mengajak si pasien untuk menjalan kewajiban ibadah shalat tepat pada waktunya.
Demikian semoga bermanfaat dan semoga kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang sabar dan ridho terhadap ujian yang ditimpakan dan senantiasa bersyukur ata rahmat dan karunia Allah Swt. Yang dilimpahkan-Nya. Amin.




Rabu, 11 Maret 2015

GERHANA BULAN DAN GERHANA MATAHARI



Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kita mungkin pernah mendengar istilah Shalat Kusufian (shalat 2 Gerhana. yaitu shalat dikarenakan terjadinya Gerhana Bulan, dan Gerhana Matahari. Dalam artian, jika terjadi Gerhana Bulan maka kita lakukan (laksanakan) shalat Khusuf, dan jika terjadi Gerhana Matahari maka kita lakukan shalat Kusuf.
A. Pengertian
Shalat gerhana dalam bahasa arab sering disebut dengan istilah khusuf (الخسوف) dan juga kusuf (الكسوف) sekaligus. Secara bahasa, kedua istilah itu sebenarnya punya makna yang sama. Shalat gerhana matahari dan gerhana bulan sama-sama disebut dengan kusuf dan juga khusuf sekaligus.
Namun masyhur juga di kalangan ulama penggunaan istilah khusuf untuk gerhana bulan dan kusuf untuk gerhana matahari.
1. Kusuf
Kusuf (كسوف)adalah peristiwa dimana sinar matahari menghilang baik sebagian atau total pada siang hari karena terhalang oleh bulan yang melintas antara bumi dan matahari.
2. Khusuf
Khusuf (خسوف) adalah peristiwa dimana cahaya bulan menghilang baik sebagian atau total pada malam hari karena terhalang oleh bayangan bumi karena posisi bulan yang berada di balik bumi dan matahari.
B. Pensyariatan Shalat Gerhana
Shalat gerhana adalah shalat sunnah muakkadah yang ditetapkan dalam syariat Islam sebagaimana para ulama telah menyepakatinya.
1. Al-Quran
Dalilnya adalah firman Allah SWT :
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Dan dari sebagian tanda-tanda-Nya adalah adanya malam dan siang serta adanya matahari dan bulan. Janganla kamu sujud kepada matahari atau bulan tetapi sujudlah kepada Allah Yang Menciptakan keduanya. (QS. Fushshilat : 37)
Maksud dari perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Yang Menciptakan matahari dan bulan adalah perintah untuk mengerjakan shalat gerhana matahari dan gerhana bulan.
2. As-Sunnah
Selain itu juga Rasulullah SAW bersabda :
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلِيَ
Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebuah tanda dari tanda-tanda Allah SWT. Keduanya tidak menjadi gerhana disebabkan kematian seseorang atau kelahirannya. Bila kalian mendapati gerhana, maka lakukanlah shalat dan berdoalah hingga selesai fenomena itu. (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad)
Selain itu juga ada hadits lainnya :
لَمَّا كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُول اللَّهِ  نُودِيَ : إِنَّ الصَّلاَةَ جَامِعَةٌ
Ketika matahari mengalami gerhana di zaman Rasulullah SAW, orang-orang dipanggil shalat dengan lafaz : As-shalatu jamiah". (HR. Bukhari).
Shalat gerhana disyariatkan kepada siapa saja, baik dalam keadaan muqim di negerinya atau dalam keadaan safar, baik untuk laki-laki atau untuk perempuan.
Namun meski demikian, kedudukan shalat ini tidak sampai kepada derajat wajib, sebab dalam hadits lain disebutkan bahwa tidak ada kewajiban selain shalat 5 waktu semata.
C. Hukum Shalat Gerhana
Para ulama membedakan antara hukum shalat gerhana matahari dan gerhana bulan.
1. Gerhana Matahari
Para ulama umumnya sepakat mengatakan bahwa shalat gerhana matahari hukumnya sunnah muakkadah, kecuali mazbah Al-Hanafiyah yang mengatakan hukumnya wajib.
a. Sunnah Muakkadah
Jumhur ulama yaitu Mazhab Al-Malikiyah, As-Syafi'iyah dan Al-Malikiyah berketetapan bahwa hukum shalat gerhana matahari adalah sunnah muakkad.
b. Wajib
Sedangkan Mazhab Al-Hanafiyah berpendapat bahwa shalat gerhana matahari hukumnya wajib.
2. Gerhana Bulan
Sedangkan dalam hukum shalat gerhana bulan, pendapat para ulama terpecah menjadi tiga macam, antara yang mengatakan hukunya hasanah, mandubah dan sunnah muakkadah.
a. Hasanah
Mazhab Al-Hanafiyah memandang bahwa shalat gerhana bulan hukumnya hasanah.
b. Mandubah
Mazhab Al-Malikiyah berpendapat bahwa hukum shalat gerhana bulan adalah mandubah.
c. Sunnah Muakkadah
Mazhab As-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah berpendapat bahwa hukum shalat gerhana bulan adalah sunnah muakkadah.
D. Pelaksanaan Shalat Gerhana
Waktu melaksanakan shalat gerhana bulan yakni dimulai dari terjadinya Gerhana Bulan itu sendiri hingga terbit kembali, atau dengan kata lain sampai Bulan tersebut nampak utuh, sedangkan waktu melaksanakan shalat Gerhana Matahari yaitu dimulai dari timbulnya Gerhana Matahari itu sendiri hingga matahari tersebut kembali sebagaimana biasanya, atau sampai terbenam.
1. Berjamaah
Shalat gerhana matahari dan bulan dikerjakan dengan cara berjamaah, sebab dahulu Rasulullah SAW mengerjakannya dengan berjamaah di masjid. Shalat gerhana secara berjamaah dilandasi oleh hadits Aisyah radhiyallahu 'anha.
2. Tanpa Adzan dan Iqamat
Shalat gerhana dilakukan tanpa didahului dengan azan atau iqamat. Yang disunnahkan hanyalah panggilan shalat dengan lafaz "As-Shalatu Jamiah". Dalilnya adalah hadits berikut :
لَمَّا كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُول اللَّهِ  نُودِيَ : إِنَّ الصَّلاَةَ جَامِعَةٌ
Ketika matahari mengalami gerhana di zaman Rasulullah SAW, orang-orang dipanggil shalat dengan lafaz : As-shalatu jamiah". (HR. Bukhari).
3. Sirr dan Jahr
Namun shalat ini boleh juga dilakukan dengan sirr (merendahkan suara) maupun dengan jahr (mengeraskannya).
4. Mandi
Juga disunnahkan untuk mandi sunnah sebelum melakukan shalat gerhana, sebab shalat ini disunnahkan untuk dikerjakan dengan berjamaah
5. Khutbah
Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum khutbah pada shalat gerhana.
1. Disyariatkan Khutbah
Menurut pendapat As-Syafi'iyah, dalam shalat gerhana disyariatkan untuk disampaikan khutbah di dalamnya. Khutbahnya seperti layaknya khutbah Idul Fithri dan Idul Adha dan juga khutbah Jumat.
Dalilnya adalah hadits Aisyah ra berikut ini :
أَنَّ النَّبِيَّ  لَمَّا فَرَغَ مِنَ الصَّلاَةِ قَامَ وَخَطَبَ النَّاسَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَال : إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ عَزَّ وَجَل لاَ يُخْسَفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
Dari Aisyah ra berkata,"Sesungguhnya ketika Nabi SAW selesai dari shalatnya, beliau berdiri dan berkhutbah di hadapan manusia dengan memuji Allah, kemudian bersabda, "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebuah tanda dari tanda-tanda Allah SWT. Keduanya tidak menjadi gerhana disebabkan kematian seseorang atau kelahirannya. Bila kalian mendapati gerhana, maka lakukanlah shalat dan berdoalah. (HR. Bukhari Muslim)
Dalam khutbah itu Rasulullah SAW menganjurkan untuk bertaubat dari dosa serta untuk mengerjakan kebajikan dengan bersedekah, doa dan istighfar (minta ampun).
2. Tidak Disyariatkan Khutbah
Sedangkan Al-Malikiyah mengatakan bahwa dalam shalat ini disunnahkan untuk diberikan peringatan (al-wa'zh) kepada para jamaah yang hadir setelah shalat, namun bukan berbentuk khutbah formal di mimbar.
Al-Hanafiyah dan Al-Hanabilah juga tidak mengatakan bahwa dalam shalat gerhana ada khutbah, sebab pembicaraan Nabi SAW setelah shalat dianggap oleh mereka sekedar memberikan penjelasan tentang hal itu.
Dasar pendapat mereka adalah sabda Nabi SAW :
فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
Bila kalian mendapati gerhana, maka lakukanlah shalat dan berdoalah. (HR. Bukhari Muslim)
Dalam hadits ini Nabi SAW tidak memerintahkan untuk disampaikannya khutbah secara khusus. Perintah beliau hanya untuk shalat saja tanpa menyebut khutbah.
6. Banyak Berdoa, Dzikir, Takbir dan Sedekah
Disunnahkan apabila datang gerhana untuk memperbanyak doa, dzikir, takbir dan sedekah, selain shalat gerhana itu sendiri.
فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
Apabila kamu menyaksikannya maka berdoalah kepada Allah, bertakbir, shalat dan bersedekah. (HR. Bukhari dan Muslim)
E. Tata Cara Teknis Shalat Gerhana

        1.      Dua Rakaat

Shalat gerhana dilakukan sebanyak 2 rakaat. Masing-masing rakaat dilakukan dengan 2 kali berdiri, 2 kali membaca qiraah surat Al-Quran, 2 ruku' dan 2 sujud. Dalil yang melandasi hal tersebut adalah :
Dari Abdullah bin Amru berkata,"Tatkala terjadi gerhana matahari pada masa Nabi SAW, orang-orang diserukan untuk shalat "As-shalatu jamiah". Nabi melakukan 2 ruku' dalam satu rakaat kemudian berdiri dan kembali melakukan 2 ruku' untuk rakaat yang kedua. Kemudian matahari kembali nampak. Aisyah ra berkata,"Belum pernah aku sujud dan ruku' yang lebih panjang dari ini. (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Bacaan Al-Quran
Shalat gerhana termasuk jenis shalat sunnah yang panjang dan lama durasinya. Di dalam hadits shahih disebutkan tentang betapa lama dan panjang shalat yang dilakukan oleh Rasulullah SAW itu :
ابْنُ عَبَّاسٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا - قَال : كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُول اللَّهِ  فَصَلَّى الرَّسُول  وَالنَّاسُ مَعَهُ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلاً نَحْوًا مِنْ سُورَةِ الْبَقَرَةِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً ثُمَّ قَامَ قِيَامًا طَوِيلاً وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الأْوَّل ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأْوَّل
Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu, dia berkata bahwa telah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah SAW. Maka Rasulullah SAW melakukan shalat bersama-sama dengan orang banyak. Beliau berdiri cukup lama sekira panjang surat Al-Baqarah, kemudian beliau SAW ruku' cukup lama, kemudian bangun cukup lama, namun tidak selama berdirinya yang pertama. Kemudian beliau ruku' lagi dengan cukup lama tetapi tidak selama ruku' yang pertama. (HR. Bukhari dan Muslim)
Lebih utama bila pada rakaat pertama pada berdiri yang pertama setelah Al-Fatihah dibaca surat seperti Al-Baqarah dalam panjangnya.
Sedangkan berdiri yang kedua masih pada rakaat pertama dibaca surat dengan kadar sekitar 200-an ayat, seperti Ali Imran.
Sedangkan pada rakaat kedua pada berdiri yang pertama dibaca surat yang panjangnya sekitar 250-an ayat, seperti An-Nisa. Dan pada berdiri yang kedua dianjurkan membaca ayat yang panjangnya sekitar 150-an ayat seperti Al-Maidah.
3. Memperlama Ruku' dan Sujud
Disunnahkan untuk memanjangkan ruku' dan sujud dengan bertasbih kepada Allah SWT, baik pada 2 ruku' dan sujud rakaat pertama maupun pada 2 ruku' dan sujud pada rakaat kedua.
Yang dimaksud dengan panjang disini memang sangat panjang, sebab bila dikadarkan dengan ukuran bacaan ayat Al-Quran, bisa dibandingkan dengan membaca 100, 80, 70 dan 50 ayat surat Al-Baqarah.
Panjang ruku' dan sujud pertama pada rakaat pertama seputar 100 ayat surat Al-Baqarah, pada ruku' dan sujud kedua dari rakaat pertama seputar 80 ayat surat Al-Baqarah. Dan seputar 70 ayat untuk rukuk dan sujud pertama dari rakaat kedua. Dan sujud dan rukuk terakhir sekadar 50 ayat.
Jadi dapat diringkas dari tata cara pelaksanaan shalat gerhana sebagai berikut:
  1. Bertakbir, membaca istiftah, Isti'adzah, al-Fatihah, kemudian membaca surat yang panjang, setara surat Al-Baqarah.
  2. Ruku' dengan ruku' yang panjang (lama).
  3. Bangkit dari ruku' dengan mengucapkan Sami'Allahu LIman Hamidah, Rabbanaa wa Lakal Hamd.
  4. Tidak langsung sujud, tetapi membaca kembali surat Al-Fatihah dan surat dari Al-Qur'an namun tidak sepanjang pada bacaan sebelumnya.
  5. Ruku' kembali dengan ruku' yang panjang tapi tidak sepanjang yang pertama.
  6. Bangkit dari ruku' dengan mengucapkan, Sami'Allahu LIman Hamidah, Rabbanaa wa Lakal Hamd.
  7. Sujud, lalu duduk di antara dua sujud, kemudian sujud kembali.
  8. Kemudian berdiri untuk rakaat kedua, dan caranya seperti pada rakaat pertama tadi.
Berikut bacaan Niat Shalat Gerhana Bulan atau Gerhana Matahari :
      Gerhana Bulan

                                                                          أُصَلِّيْ سُنَّةَ لِخُسُوْفِ الْقَمَرِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

” Ushallii Sunnatal Khusuufi Rak’ataini Lillahi Ta’alaa “
Artinya : ” Saya niat (melaksanakan) shalat sunnah Gerhana Bulan dua rakaat karena Allah ta’ala “

        Gerhana Matahari
                             أُصَلِّيْ سُنَّةَ لِكُسُوْفِ الشَّمسِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى
” Ushallii Sunnatal Kusuufi Rak’ataini Lillahi Ta’alaa “}
Artinya : ” Aku niat (melaksanakan) shalat sunnah Gerhana Matahari dua rakaat karena Allah ta’ala “

Catatan:
* Disunnahkan pelaksanaan shalat gerhana di masjid, tidak ada azan atau iqomah sebelumnya, hanya panggilan “Al-Shalatul Jami'ah.”
* Disunnahkan Imam untuk memberikan nasihat kepada manusia dengan berkhutbah setelah shalat, memperingatkan mereka agar tidak lalai dan memerintahkan mereka supaya memperbanyak doa, istighfar, dan amal shalih. Hal ini didasarkan pada hadits 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha, "Ketika Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam sudah selesai dari shalat, beliau berdiri dan berkhutbah kepada jama'ah. Beliau memuji Allah dan menyanjungnya. Kemudian beliau mengatakan,
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا ثُمَّ قَالَ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنْ اللَّهِ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلبَكَيْتُمْ كَثِيرًا
"Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Maka jika kalian melihatnya bersegeralah berdoa kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah. Kemudian beliau bersabda: Wahai Umat Muhammad, demi allah, tidak ada seorangpun yang lebih pencemburu daripada Allah. (Dia cemburu) hamba sahaya laki-laki dan hamba sahaya perampuan-Nya berzina. Wahai umat Muhammad, demi Allah kalau saja kalian tahu apa yang aku ketahui niscaya kalian sedikti tertawa dan banyak menangis." (HR. Al-Bukhari)